Thank you, but I hope you’re not mistaken between me and Snow White’s wishing well.
Thank you, but I hope you’re not mistaken between me and Snow White’s wishing well.
Saya ingin menjelaskan bagaimana menurut saya, kata ‘jelas’ dan segala bentuk aplikasinya sebagai kata sifat, kata benda atau kata kerja sepertinya sangat populer. Jelas sekali bahwa kita sangat menyukai kata ‘jelas’ ini. Banyak contoh penjelasan akan teori soal kecintaan kita terhadap kata ‘jelas’ yang bisa saya jelaskan. Tapi alasannya kenapa, masih belum jelas.
Misal, secara teknis, kita pergi ke sekolah hanya untuk mendengarkan penjelasan guru selama lebih dari setengah hari. Apa yang guru kita jelaskan sudah pasti jelas untuk kita? Belum tentu. Guru harus bisa tahu dengan jelas bahwa kita, sebagai murid yang menerima penjelasan, mengerti betul apa yang sudah mereka jelaskan. Lahirlah konsep PR, Ulangan, Ujian, Tes Praktek, dan seterusnya.
Enam tahun proses ini diulang terus-menerus dan di akhir tahun keenam, pemerintah pun ikut andil dalam memastikan kejelasan penjelasan guru terhadap murid-muridnya dengan membawa indikator kejelasan penjelasan itu dalam taraf nasional. Namanya Ujian nasional. Tujuannya supaya kita bisa lulus dan naik ke tingkat sekolah menengah. Jelas. Walaupun, kejelasan alasan dari pemilihan cara untuk memastikan bahwa penjelasan guru selama enam tahun di sekolah tingkat menengah itu bisa jelas hanya dalam tiga hari saja, sangat tidak jelas.
Itu baru satu contoh yang menggambarkan bagaimana kita sangat menyukai kata ‘jelas’. Masih banyak contoh penjelasan lain yang mungkin lebih jelas dari penjelasan saya barusan atau bisa jadi tidak sejelas penjelasan saya barusan. Kalau penjelasan saya di atas jelas sejelas-jelasnya, maka kamu sebagai pembaca tidak perlu menjawab ‘jelas!’ jika saya tanya, ‘jelas?’ - Karena dengan kalian diam, itu dengan jelas menunjukkan bahwa penjelasan saya sudah jelas bagi kalian. Tapi, kalau kalian merasa penjelasan saya ini tidak jelas dalam artian yang sama dengan ungkapan “Nggak jelas lu!”, maka sesungguhnya komentar semacam itu justru akan semakin menjelaskan penjelasan saya bahwa kata ‘jelas’ dan bentukan-bentukannya sangatlah populer. Bahkan kalian pun menggunakannya.
Tapi yang jelas, tidak peduli seberapa populernya kata ‘jelas’ di dunia ini, seorang penulis blog humor di tumblr tidak mungkin mengeksploitasi penggunaan kata ‘jelas’ dan segala bentukannya. Apalagi saya.
Tidak akan.
I think at some point of our lives, we’d wish that we were Tarzan and live in a world where the demands and preferences of gifts from family and relatives on any occasions are relatively simplified.
You only need to plant a banana tree and you’d get yourself ready to get through birthdays, anniversaries, valentine’s, graduations, promotions, thanksgivings, new babies, farewells, christmas, and all you need is a set of different colored-ribbons.
For making “What a thoughtful present!” seems that effortless, I’d say fuck you, Tarzan.
Pakai bahasa ibu. Tidak belajar bahasa lain. Terbatas sampai bandar udara. Belajar bahasa asing.
Belajar bahasa asing. Berlatih menggunakannya. Dibilang tidak mencintai bahasa ibu.
Belajar bahasa asing. Merasa sulit. Menyerah. Sudahlah pakai bahasa ibu saja. Pakai ‘tidak punya kesempatan yang sama’ sebagai alasan.
Dapat kesempatan. Belajar bahasa asing. Masih merasa sulit. Menyerah lagi. Pakai bahasa ibu lagi.
Lalu lihat yang tetap gigih. Yang akhirnya bisa bahasa asing. Lalu iri. Lalu tidak mau kalah.
Lalu tunjuk mereka yang berlatih. Bilang mereka tidak mencintai bahasa ibu. Pakai nasionalisme untuk tutupi inferior dalam diri.
Lihat mereka yang gigih. Yang berusaha. Melewati bandara. Mereka berkembang.
Setelah mereka yang gigih berhasil, langkah berikutnya apa?
Kembali ulang dari atas.
Sudah pagi lagi ternyata. Sepi. Jendela-jendelanya masih gelap sih. Lapar.
Mereka belum mengisi piringku, lagi. Harus berapa kali sih aku berteriak-teriak agar diisi lagi piringku? Benar-benar bodoh. Yah, kalau mereka pintar mereka tidak akan percaya segala tipu dayaku sih. Dengan mata bulat…
Orang jaman dulu 1 (membawa segelas air): Kita namakan apa minuman ini?
Orang jaman dulu 2: Air putih.
Orang jaman dulu 3 (membawa segelas susu): Kalau itu air putih, lalu yang kubawa ini kita sebut air apa?
Orang jaman dulu 1: .........Anjing.
PETA LAGU: ‘DAN’ - SHEILA ON 7
Ryan Adriandhy mencoba menjabarkan struktur dan alur dalam menyanyikan single Sheila On 7 dengan menggunakan konstruksi berpikir (sok) ilmiah.
Semoga bisa dipahami.
Oh, mungkin akan saya hadirkan dalam versi poster cetak jika kalian ingin mengoleksinya. Mau?
Me. Well, who else?